Minggu, 10 Maret 2013

Lahir dan Masa kejayaan Kerajaan Demak



BAB I
PENDAHULUAN
Demak pada masa sebelumnya sebagai suatu daerah yang dikenal dengan nama Bintoro
atau Gelagahwangi yang merupakan daerah kadipaten di bawah kekuasaan Majapahit.
Kadipaten Demak tersebut dikuasai oleh Raden Patah salah seorang keturunan Raja
Brawijaya V (Bhre Kertabumi) yaitu raja Majapahit. Dengan berkembangnya Islam di Demak, maka Demak dapat berkembang sebagai kota dagang dan pusat penyebaran Islam di pulau Jawa. Hal ini dijadikan kesempatan bagi Demak untuk melepaskan diri dengan melakukan penyerangan terhadap Majapahit. Setelah Majapahit hancur maka Demak berdiri sebagai kerajaan Islam pertama di pulau Jawa dengan rajanya yaitu Raden Patah.

BAB II
PEMBAHASAN

Lahir dan Masa kejayaan Kerajaan Demak
Kesultanan Demak atau Kesultanan Demak Bintara adalah kesultanan Islam pertama di Jawa yang didirikan oleh Raden Patah pada tahun 1478. Kesultanan ini sebelumnya merupakan keadipatian (kadipaten) vazal dari kerajaan Majapahit, dan tercatat menjadi pelopor penyebaran agama Islam di pulau Jawa dan Indonesia pada umumnya.[1] Lahirnya kerajaan Islam pertama di Jawa Tengah, d Demak, sejak abad ke-17 mendapatkan perhatian para pembawa cerita dan para penulis sejarah Jawa. Pada abad ke-17 hegemoni di Jawa Twngah dan Jawa Timur jatuh ke tangan raja-raja Mataram di pedalaman.[2]
            Menurut cerita tradisi Mataram Jawa Timur, raja Demak yang pertama Raden Patah adalah putra raja Majapahit yang terakhir (dari zaman sebelum Islam), yang dalam legenda-legenda bernama Brawijaya. Ibu Raden Patah konon seorang putri Cina dari keraton raja Majapahit. Raden Patah dalam menjalankan pemerintahannya, terutama dalm persoalan-persoalan agama, dibantu para ulama, Wali Songo. Sebelumnya, Demak yang masih bernama Bintoro merupakan daerah asal Majapahit yang diberikan Raja Majapahit kepada Raden Patah. Daerah ini lambat laun menjadi pusat perkembangan agama Islam yang diselenggarakan oleh para wali.
                Pemerintahan Raden Patah berlangsung kira-kira di akhir abad ke-15 hingga awal abad ke-16. Menurut Tome Pires, Pati unus baru berumur 17 tahun ketika menggantikan ayahnya sekitar 1507. Menurutnya, tidak lama setelah naik tahta,ia merencanakan suatu serangan terhadap malaka. Semangat perangnya semakin memuncak ketika Malaka ditaklukkan oleh Portugis pada tahun 1511. Akan tetapi, sekitar pergantian tahun 1512-1513, tentaranya mengalami kekalahan besar. Raden Patah kemudian digantikan oleh Adipati Unus (1518-1521). Walau ia tidak memerintah lama, tetapi namanya cukup terkenal sebagai panglima perang yang berani.
Ia berusaha membendung pengaruh Portugis jangan sampai meluas ke Jawa. Karena mati muda, Adipati Unus kemudian digantikan oleh adiknya, Sultan Trenggono (1521-1546). Di bawah pemerintahannya, Demak mengalami masa kejayaan. Trenggono berhasil membawa Demak memperluas wilayah kekuasaannya. Pada tahun 1522, pasukan Demak di bawah pimpinan Fatahillah menyerang Banten, Sunda Kelapa, dan Cirebon. Baru pada tahun 1527, Sunda Kelapa berhasil direbut. Dalam penyerangan ke Pasuruan pada tahun 1546, Sultan Trenggono gugur.[3]
            Berdasarkan berita abad ke-17 dan yang dari Jawa Barat yang jarang tetapi sangat menarik perhatian itu dapat di simpulkan bahwa asal usul dinasti Demak itu dari Cina pada waktu itu dapat dipercayai. Ia sudah memeluk agama Islam ketika menetap de daerah Demak, dan ia datang menjadi “Patih” raja (siapa pun orangnya). Konon, ia datang dari Jawa Timur (Gresik) dan menetap di Demak. Dapat pula dipercaya bahwa selama hidup ia tidah hanya mengakui kekuasaan penguasa setempat (gubernur atau bawahan raja Majapahit). Ia sendiri konon belum menjadi raja, melainkan orang berapengarh yang berasal dari Cina, yang termasuk golongan pedagang menengah yang berada. Ia hidup di Demak pada perempatan terakhir abad ke-15.[4]

Pergantian Penguasa di Kerajaan Demak
Dalam sebuah pemerintahan atau kerajaan tentunya mengalami pergeseran kepenguasaan, begitu juga yang terjadi di Kerajaan Demak. Seperti yang tercantum dalam historiografi tradisional jawa, pendiri Kerajaan Demak ialah Raden Patah yang merupakan raja pertama kerajaan Demak, ia memiliki gelar Senopati Jimbun Ngabdurahman Panembahan Palembang Sayidin Panatagama[5]. Dalam menjalankan pemerintahannya terutama salam persoalan-persoalan agama,ia dibantu oleh para ulama. Pemerintahan Raden Patah berlangsung kira-kira di akhir abad ke-15 hingga awal abad ke-16, ada yang menyebutkan bahwa Raden Patah adalah salah satu murid Sunan Kudus yang ulng. Oleh karena itu, disaat ia memimpin kerajaan Demak Sunan Kuduslah yang selalu mendampinginya.  Dengan meninggalnya Raden Patah pada tahun 1518, maka kekuasaan Kerajaan Demak beralih ketangan putranya sendiri yaitu Pangeran Sabrang Lor atau dikenal juga dengan nama Patih Unus, tetapi putra Raden Patah ini tidaklah lama memerintah dan kebanyakan menghabiskan masa dalam medan perang selama tiga tahun. Lalu Patih Unus digantikan oleh Trenggono yang dilantik sebagai Sultan oleh Sunan Gunung Jati dengan gelar Sultan Ahmad Abdul ‘Arifin, ia memerintah pada tahun 1524-1546. pada masa pemerintahan Sultan Ahmad inilah Islam dikembangkan ke seluruh pulau jawa, bahkan sampai  ke Kalimantan Selatan. Penaklukan Sunda Kelapa berakhir tahun 1527 yang dilakukan oleh pasukan gabungan Demak dan Cirebon di bawah pimpinan Fadhilah Khan. Majapahit dan Tuban jatuh ke bawah kekuasaan kerajaan Demak diperkirakan pada tahun 1527 itu juga. Selanjutnya, pada tahun 1529, Demak berasil menundukkan Madiun , Blora (1530), Surabaya (1531), Pasuruan (1535), dan antara tahun 1541-1542 Lamongan, Blitar, Wirasaba, dan kediri (1544). Palembang dan Banjarmasin mengakui kekuasaan Demak. Sementara daerah Jawa Tengah bagian Selatan sekitar Gunung Merapi, Pengging, dan Pajang berhasil dikuasai pemuka Islam.[6] Pada  tahun 1546, dalam penyerbuan ke Blambangan, Sultan Trenggono terbunuh lalu Sultan Trenggono pun digantikan oleh adiknya yaitu Prawoto. Masa pemerintahan Prawoto tidak berlansung lama karena terjadi pemberontakan oleh adipati-adipati sekitar kerajaan Demak. Mangkatnya Sultan Trenggono yang agung itu di medan paerang menyebabkan dendam perebutan kekuasaan yang selama ini terpendam, dengan sendirinya tidak dapat ditutup lagi.[7]                                                                                                                                                                                                              
                                                                                                           
Mundur Dan Runtuhnya Kesultanan Demak Pada Abad ke-16
               Tahun 1546 bukanlah akhir Kerajaan Demak, memang Demak pada tahun itu menderita kekalahan yang sangat besar akibat serangannya ke bekas pelarian Majapahit di Panarukan dan Blambangan. Sejak tahun itu pula tak ada kemajuan lagi yang dicapai Demak, bahkan kemunduran terjadi sejak itu. Sultan Trenggana yang dibantu Fatahillah (Sunan Gunung Jati) tak berdaya melawan Blambangan, bahkan Sultan Trenggana gugur dalam peperangan itu. Seperti juga Majapahit yang disengkalakan berakhir pada 1400 Caka (sirna ilang kertaning bhumi) atau 1478 M, pada kenyataannya kerajaan ini berakhir benar pada 1527 M.[8]
Sepeninggal Sultan Trenggono, Demak mengalami kemunduran. Terjadi perebutan kekuasaan antara Pangeran Sekar Sedolepen, saudara Sultan Trenggono yang seharusnya menjadi raja dan Sunan Prawoto, putra sulung Sultan Trenggono. Sunan Prawoto kemudian dikalahkan oleh Arya Penangsang, anak Pengeran Sekar Sedolepen.
Namun, Arya Penangsang pun kemudian dibunuh oleh Joko Tingkir, menantu Sultan Trenggono yang menjadi Adipati di Pajang. Joko Tingkir (1549-1587) yang kemudian bergelar Sultan Hadiwijaya memindahkan pusat Kerajaan Demak ke Pajang. Kerajaannya kemudian dikenal dengan nama Kerajaan Pajang.
Sultan Hadiwijaya kemudian membalas jasa para pembantunya yang telah berjasa dalam pertempuran melawan Arya Penangsang. Mereka adalah Ki Ageng Pemanahan menerima hadiah berupa tanah di daerah Mataram (Alas Mentaok), Ki Penjawi dihadiahi wilayah di daerah Pati, dan keduanya sekaligus diangkat sebagai bupati di daerahnya masing-masing. Bupati Surabaya yang banyak berjasa menundukkan daerah-daerah di Jawa Timur diangkat sebagai wakil raja dengan daerah kekuasaan Sedayu, Gresik, Surabaya, dan Panarukan.
Ketika Sultan Hadiwijaya meninggal, beliau digantikan oleh putranya Sultan Benowo. Pada masa pemerintahannya, Arya Pangiri, anak dari Sultan Prawoto melakukan pemberontakan. Namun, pemberontakan tersebut dapat dipadamkan oleh Pangeran Benowo dengan bantuan Sutawijaya, anak angkat Sultan Hadiwijaya. Tahta Kerajaan Pajang kemudian diserahkan Pangeran Benowo kepada Sutawijaya. Sutawijaya kemudian memindahkan pusat Kerajaan Pajang ke Mataram.[9]

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Runtuhnya Kerajaan Majapahit menjadi peluang bagi penguasa-penguasa Islam untuk membangun pusat-pusat kekuasaan Islam. Salah satunya adalah kerajaan Demak. Kerajaan Demak merupakan kerajaan Islam yang pertama kali berdiri di pulau jawa dengan raja pertamanya Raden Patah. Seperti halnya kerajaan-kerajaan Islam lainnya,  dalam masa kejayaannya kerajaan Demak pun mengalami pergeseran kepenguasaan. Dan kerajaan  Demak mengalami kejayaan pada masa Sultan ketiga.



DAFTAR PUSTAKA
Yatim, Badri,Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,2004
Graff, H.J. De, Kerajaan Kerajaan Islam Pertama di Jawa. Pustaka Grafiti Pers, 1986
Hamka, Sejarah Umat Islam. Jakarta: N.V Bulan Bintang, 1981
[1] http://www.mail-archive.com/iagi-net@iagi.or.id/msg24981.html
http://www.afand.cybermq.com/post/detail/2284/kerajaan-kerajaan-bercorak-islam-di-indonesia


[1] http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Demak
[2] Graaf, H.J. DE, Kerajaan kerajaan Islam pertama d Jawa (Pustaka Grafiti Pers,1986).hlm. 39
[3] http://www.afand.cybermq.com/post/detail/2284/kerajaan-kerajaan-bercorak-islam-di-indonesia
[4] Ibit.hlm. 41-43
[5] Badri yatim, sejarah peradaban Islam… hlm. 210
[6] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam,(Jakarta:PT Raja Grafindo Persada, 2004), hlm.211-212.
[7] Prof. DR. Hamka, Sejarah Umat Islam, (Jakarta: N.V Bulan bintang, 1981), hlm. 163
[8] http://www.mail-archive.com/iagi-net@iagi.or.id/msg24981.html
[9] http://www.afand.cybermq.com/post/detail/2284/kerajaan-kerajaan-bercorak-islam-di-indonesia

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar