Senin, 11 Maret 2013

Pondok Pesantren Rasyidiyah Khalidiyah Amuntai Kalimantan Selatan



SELAYANG PANDANG PONDOK PESANTREN
RASYIDIYAH KHALIDIYAH AMUNTAI

A.    Profil Pondok Pesantren Rasyidiyah Khalidiyah
Pesantren Rasyidiyah Khalidiyah ini awal mulanya berdiri dengan nama Arabische School yang didirikan pada tanggal 13 Oktober  1922 M. bertepatan dengan 12 Rabiul Awal 1341 H. berawal dari sebuah rumah sederhana yang terletak di Desa Pakapuran Amuntai. Pesantren ini didirikan oleh Tuan Guru K.H Abdurrasyid, alumnus Universitas Al Azhar Cairo dari tahun 1912-1922. [1]
Tuan Guru K.H Abdurrasyid dilahirkan pada tahun 1884 M di Desa Pakapuran Amuntai dari keluarga petani sederhana yang taat beragama. Ayahnya bernama Haji Ramli (dikenal dengan panggilan Haji Iram) dan ibunya bernama Khadijah. Ketika kawan-kawannya bersekolah di Inlandsche School, beliau mempelajari Al Qur’an pada seorang guru guru Al Qur’an di kampung. Pada usia tujuh tahun, beliau khatam Al Qur’an. [2]
Kemudian dengan izin kedua orang tua, Tuan Guru K.H Abdurrasyid pergi dari kampung ke kampung menuntut pelajaran agama Islam di pesantren-pesantren dan di rumah-rumah guru agama. Setelah dirasa cukup cukup mempelajari pengetahuan dari kampung ke kampung beliau bercita-cita pergi ke Mesir, yang sudah terkenal sebagai pusat studi agama Islam. Kemudian tahun 1912 Tuan Guru K.H Abdurrasyid pergi ke Mesir untuk mengikuti kuliah di Universitas Al Azhar Kairo sampai tahun 1922 selama 10 tahun.[3]
Tuan Guru K.H Abdurrasyid membuka penyelenggaraan pendidikan dirumah sendiri, sekaligus beliau bertindak sebagai pengajar tunggal dengan menggunakan sistem halqah, yaitu wetonan dimana tuang guru (Kyai) membaca kitab sesuatu dengan waktu, sedangkan santrinya duduk disampingnya mendengarkan dan menyimak apa yang diajarkan beliau dalam kitab tersebut, dan sorogan/bandungan, santri yang sudah mampu dan pandai mensorongkan sebuah kitab kepada tuan guru (Kyai) untuk dibacakan dihadapan beliau.[4]
Lama kelamaan jumlah santri yang datang sangatlah banyak, sehingga mengakibatkan daya tampung rumah Tuan Guru K.H Abdurrasyid tidak mungkin lagi, untuk itu ditempatnya dipindahkan kesebuah surau (mushalla) yang terletak berhadapan dengan rumah beliau, ditepi sungai Tabalong. Dengan perpindahan tersebut dibarengi pula dengan perpindahan sistem/metode penyelenggaraan pendidikan dari sistem hilqah ke sistem klasikal, dimana dilengkapai dengan meja, kursi dan papan tulis.[5]
Dalam proses belajar mengajar menurut istilah Tuan Guru K.H Abdurrasyid menggunakan sistem beranting (estafet). Beliau sendiri mengajar pada kelas tertinggi, kemudian para santrinya diberi tugas belajar pada kelas dibawahnya, hanya pada saat-saat tertentu memberikan pelajaran (nasehat) secara umum kepada seluruh santri.[6]
Sistem pengajaran yang dijalankan oleh Tuan Guru K.H Abdurrasyid mendapatkan sambutan dari masyarakat. Dari berbagai tempat para santri datang untuk belajar ketempat ini. Sebagian dari mereka berasal dari tempat yang jauh, kemudian memondok dirumah-rumah penduduk disekitar surau. Kampung Pakapuran yang semula sepi kemudian menjadi ramai dan penuh kesibukan dengan para penuntut ilmu.[7]


B.     Perjalanan Pondok Pesantren Rasyidiyah Khalidiyah
Sampai pertengahan tahun 1931 Arabische School sudah mulai maju dan telah mengeluarkan lulusannya beberapa orang, sehingga memerlukan tenaga pengajar yang berpendidikan tinggi, kemudian bertepatan dengan tanggal 22 Agustus 1931, sejumlah santri Arabische School datang ke rumah K.H. Juhri Sulaiman untuk meminta beliau hadir ke gedung Arabische School yang sudah ditunggu oleh sejumlah guru-guru, tokoh masyarakat dan para santri pada acara tersebut. K.H. Juhri Sulaiman disambut dan diangkat secara resmi oleh Tuan Guru K.H Abdurrasyid menjadi guru pada Arabische School. Kemudian pimpinan Arabische School diserahkan oleh Tuan Guru K.H Abdurrasyid kepada K.H. Juhri Sulaiman karena beliau akan pergi ke Kandangan untuk mendirikan perguruan Islam disana.[8]
1.      K.H. Juhri Sulaiman 1931-1942
K.H. Juhri bin Haji Sulaiman lahir pada tanggal 19 Mei 1907 di Tangga Ulin Amuntai. Tahun 1921 tamat Sekolah Rendah Pemerintah (Sekolah Rakyat), selanjutkan mengaji Ilmu Agama Islam pada Guru Agama di kampung-kampung. Tahun 1923 meneruskan pelajaran ke Universitas Al Azhar Kairo. Tanggal 5 Februari 1931 kembali ke Amuntai dan pada tahun 1931-1942 beliau memimpin dan mengajar di Arabische School.[9]
Dalam memimpin perguruan ini, K.H. Juhri Sulaiman telah berbuat banyak inisiatif dengan segala pelaksanaannya, yaitu menyusun organisasi dan administrasi perguruan, disamping beliau secara aktif mengajar. Dibawah kepemimpinan K.H. Juhri Sulaiman, Arabische School terus mengalami kemajuan yang sangat pesat. Demi mengenang jasa Tuan Guru K.H Abdurrasyid orang pertama yang mendirikan dan membangun Arabische School, perguruan Islam yang asalnya bernama  Arabische School  diganti dengan nama baru menjadi Al Madrasatur Rasyidiyah.[10]
Alasan mengapa menggunakan nama baru ini dikehendaki suatu pengetian yang jelas, bahwa Perguruan Islam ini adalah penerus cita-cita almarhum Tuan Guru Haji Abdurrasyid, yang sekaligus untuk menjadi kenangan kepada jasa beliau sebagai orang pertama yang mendirikan dan membangun perguruan ini.[11]
Atas pimpinan K.H. Juhri Sulaiman, diadakan perbaikan halaman gedung sekolah. Akhir tahun 1942 beliau lebih banyak aktif dalam kegiatan sosial/pendidikan dalam ruang yang lebih luas.[12] Sebagai seorang ulama yang berpengaruh di Amuntai, pada tahun 1948, K.H. Juhri Sulaiman terpilih menjadi Ketua Majelis Syura di Hulu Sungai Utara. Terpilihnya beliau sebagai Ketua Majelis Syura bukannya tanpa alasan. Para tokoh masyarakat dan alim ulama pada saat itu bersepakat dan menganggap bahwa K.H. Juhri Sulaiman sangat memegang amanah tersebut.[13]
K.H. Juhri Sulaiman juga mendapatkan kepercayaan dari pemerintah menjadi Kepala Kantor Urusan Agama Kabupaten Hulu Sungai Utara, dan kemudian diangkat menjadi Kepala Kantor Wilayah Departemen Agama Propinsi Kalimantan Selatan. Beliau adalah salah satu tokoh NU yang berpengaruh dan disegani di Kalimantan Selatan.[14]
Pimpinan selanjutnya setelah K.H. Juhri Sulaiman dipegang oleh Ustaz H.M. Arif Lubis dari Padang Sidempuan lulusan Kulliyatul Mu’alimin El Islamiyah (Normal Islam) Padang juga pernah mengajar pada pondok Modern Gontor Ponorogo.[15]
2.      H.M. Arif Lubis 1942-1944
H.M. Arif Lubis dilahirkan pada tanggal 26 Desember 1918 di Padang Sidempuan Sumatera Utara. Tahun 1939 lulus Kulliyatul Mu’allimin El Islamiyah (Normal Islam) Padang. Kemudian menjadi guru pada Pondok Gontor Ponorogo sampai 1942. Tahun 1942-1944 menjadi guru Al Madrasatur Rasyidiyah Amuntai. Tahun 1947-1949 mengikuti kuliah Hukum pada Perguruan Tinggi Malang dan melanjutkan pada Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada Yogyakarta, dan menjadi Pegawai Deperteman Agama. Pada tanggal 19 Oktober 1972 beliau berpulang kerahmatullah.[16]
Dalam kepemimpinan H.M. Arif Lubis juga mengadakan pembaharuan, terutama dalam bidang pendidikan dan pengajaran dimana bidang studi ditambah dengan ilmu pengetahuan umum sesuai kebutuhan dan hajat masyarakat pada waktu itu, disamping itu beliau juga memperkenalkan tingkatan-tingkatan pendidikan seperti adanya tingkat Ibtidayah dan tingkat Tsanawiyah serta diadakannya sekolah khusus untuk anak-anak perempuan di waktu sore.[17]
Kemudian untuk memperluas Al Madrasatur Rasyidiyah beliau ganti nama tersebut dengan nama Ma’had Rasyidiyah. Alasan perubahan nama itu dilaksanakan oleh beliau adalah dengan maksud untuk menserasikan dengan tuntunan zaman ketika itu.[18] Bertepatan dengan tanggal 8 Desember 1942 Jepang memasuki kota Amuntai, situasi dan kondisi berubah dimana Dai Nippon menggunakan kekuasaannya, seluruh partai dan organisasi massa dibubarkan, bahkan nama madrasah pun harus diganti dengan menggunakan bahasa Jepang, maka Ma’had Rasyidiyah diganti Kai Kjo Gakko dengan ditambah nama tempat dimana masrasah itu didirikan. Kepemimpinan beliau tidak berlangsung lama hingga sampai tahun 1944 beliau bertugas ke Alabio untuk memimpin dan mengajar perguruan Islam disana.[19]
Pada masa peralihan pesantren ini pernah mengalami kevacuman, atas keprihatinan Qadi Tuan Guru M. Burhan melihat kondisi kagiatan pesantren tidak ada lagi kegiatannya bahkan sebagian bangunannya dipakai untuk lumbung padi pemerintah. Beliau berharap kepada Idham Chalid alumnus Pondok Modern Gontor Ponorogo dapat memimpin merehabilitasi Ma’had Rasyidiyah, dengan penuh keikhlasan Idham Chalid dapat menerimanya.[20]
3.      K.H. DR. Idham Chalid 1945-2012
K.H. DR. Idham Chalid dilahirkan pada hari Senin pagi tanggal 05 Muharram 1342 H. bertepatan dengan 27 Agustus 1922, disebuah desa kecil bernama Setui, yang sekarang termasuk daerah Tanah Bumbu. Ayah beliau bernama H. Muhammad Chalid dan Ibu bernama Hj. Umi Hani. Ayah beliau sebagai pengulu disamping itu juga beliau seorang pedagang atau pengusaha sekaligus menjadi guru agama di daerah itu. Orang tua beliau ketika mudanya pernah mengaji agama di kampung asalnya Amuntai dari beberapa ulama diantaranya dengan Tuan Guru H. Chalid Tangga Ulin dan H. Muhammad Nanang, kemudian merantau bersama gurunya ke Singapura dan beliau merantau kurang lebih sebelas tahun lamanya di Johor.[21]
Pada tahun 1932 K.H. DR. Idham Chalid masuk Sekolah Dasar (Gouvermement 2 klasse) satu-satunya perguruan yang ada di Pagatan, beliau langsuk dimasukkan di kelas 2 karena sudah bisa baca tulis latin, perguruan ini sebagaimana biasa disebut Sekolah Rakyat atau Sekolah Melayu. Seumuran beliau kira-kira 9-10 tahun secara diam-diam sangat senang bermain bersama anak-anak seusianya, tanpa sepengatahuan orang tua, karena orang tua beliau sangat disiplin dan ketat dalam pengawasannya.[22]
Akhir tahun 1932 K.H. DR. Idham Chalid sekeluarga meninggalkan Pagatan menuju kota kelahiran ayah dan nenek dari pihak ayah di Amuntai kemudian mendaftarkan diri pada Vervolgschool (Sekolah Melayu setingkat dengan Gouvermement 2 klasse). Tahun 1934 setamatnya dari Vervolgschool dimasukkan oleh orang tuanya ke Madrasah Islam di Pakapuran yang didirikan dan dipimpin oleh Tuan Guru K.H Abdurrasyid.[23]
Menjelang akhir tahun 1938 melanjutkan pendidikan ke Pondok Modern Gontor bersama Abdul Muthalib, H. Djafri, Dja’far Saberan, Napiah, Hasan Basri, M. Noeh dan K.H. DR. Idham Chalid yang paling termuda. Di Pondok Modern Gontor, beliau Abdul Muthalib dan H. Djafri diterima di kelas I Kulliyyatul Mu’alimin al-Islamiyah. Dari segi mata pelajaran mereka tidak mendapatkan kesulitan karena ilmu bahasa arabnya sudah di pelajari di Ma’had Rasyidiyah dan juga mengaji kepada guru-guru lain.[24]
Kepulangan ke kampung halaman K.H. DR. Idham Chalid dari Gontor Ponorogo di Pondok Modern, mendapatkan respon yang positif oleh masyarakat di Amuntai sekitar tahun 1944.[25]
Salah satu guru dan tetangga adalah Qadhi Tuan Guru M. Burhan, memanggil untuk dapat bersilaturrahmi ke Kantor Keqadhian untuk membicarakan kehidupan sosial keagamaan dan keberlangsungan Al Madrasatur Rasyidiyah yang tidak ada kelihatan kegiatannya lagi, terjadi kevakuman bahkan sebagian bangunannya dipakai untuk lumbung padi pemerintah.[26]
Qadhi M. Burhan mengharapkan kesediaan pimpinan Ma’had Rasuidiyah dapat dipimpin oleh K.H. DR. Idham Chalid. Karena masyarakat sangat menanti-nanti kamu sebagai putera daerah untuk memimpin turun tangan menyegarkan kembali madrasah yang telah banyak jasanya dimasa lalu.[27]
Sekitar akhir tahun 1944, Tuan Qadhi dan Ketua Jamiyah Tuan Guru H. Juhri Sulaiman, Alim Ulama, Tokoh-Tokoh Masyarakat, Pengusaha terkemuka yang dahulunya pernah menjadi Komite Pemelihara Perguruan Al Madrasatur Rasyidiyah mengadakan musyawarah yang dipimpin oleh Tuan Guru H. Juhri Sulaiman, telah bulat dan sepakat menunjuk K.H. DR. Idham Chalid untuk memimpin Al Madrasatur Rasyidiyah dengan mandat penuh, dibantu oleh Abdul Muthalib, Ja’far Saberan, H. Japri dan H. Zamzam.[28]
Tepatnya pada tanggal 9 April 1945  telah menyusun sistem dan metode pendidikan, materi kurikulum pendidikan, struktur dan organisasi manajemen, dan pola pikir serta kebebasan, sesuai dengan kelaziman sebuah perguruan Islam. Pola pengajaran sebagian mengadopsi sistem pola Pondok Modern dan Arabische School Tuan Guru K. H. Abdurrasyid sebagai pendiri perguruan ini, karena tenaga pengajarnya diambil dari alumni kedua perguruan tersebut.[29] Untuk menyesuaikan pendidikan yang K.H. DR. Idham Chalid alami dengan sistem perpaduan pondok pesantren salafiyah dan khalifiyah, nama Ma’had Rasyidiyah menjadi Normal Islam Amuntai.[30]
Dengan menggunakan sistem pola kedua tersebut, oleh masyarakat sambutannya baik sekali. Hal ini dapat dipahami Perguruan Islam di Pakapuran yang didirikan tahun 1922 sudah menjadi kebanggaan masyarakat, hanya akibat pecahnya perang keadaannya memprihatinkan. Rencana pengajaran dengan memperkuat pengajaran agama dengan alat-alatnya, juga memperdalam pengetahuan umum, ilmu pasti seperti Aljabar Ilmu Ukur berhitung, Geografi dan Ilmu Kesadaran Berbangsa. Pada masa itu pendidikan masih sangat kurang, pengaruh penjajahan Belanda dan Jepang masih ada, orang pribumi sangat terbatas sekali yang mendapatkan pendidikan, antara pendidikan sistem Barat dan pendidikan Islam sangat menyolok sekali.[31]
            Periode ini terjadi inovasi pengembangan pendidikan dan pengajaran, sarana prasarana maupun organisasi dari administrasi. Pengembangan secara umum terjadinya pengorganisasian madrasah-madrasah islam yang dinamakan Ittihadul Ma’ahadil Islamiyah (IMI) yang perpusat di Normal Islam Amuntai, keterlibatan IMI pada Kongres Muslim pertama se Indonesia sebagai peserta aktif di Yogyakarta tanggal 20 Desember 1949. Bahkan IMI sebagai pelopor berdirinya organisasi madrasah  yang bersifat nasional yaitu Persatuan Madrasah Islam Indonesia (PMII). Yang merupakan gabungan organisasi madrasah yaitu: Gabungan Perguruan Islam (GAPI) di Kandangan, Persatuan Perguruan Islam (PPI) di Barabai, dan Serikat Perguruan Islam (SERPI) di Banjarmasin.[32]
            Untuk mengatisipasi keterlibatan dalam politik beliau talah menyatakan dalam surat beliau tertanggal 8 September 1953 dengan tegas menyatakan “Perguruan Normal Islam” tetap berjalan di atas prinsip hak semua umat Islam dan netral dari segala pengaruh ideologi Partai dan organisasi politik.[33]
4.      Ir.H.M.Said 2012-Sekarang
Ir.H.M.Said dilahirkan di Kandangan pada tanggal 8 September 1936. Pada awalnya nama beliau bernama Moehammad Joesran karena kakak beliau bernama Moehammad Joesri. Tetapi setelah acara bertasmiah atas saran seorang Tuang Guru yang berpengaruh di kampung beliau, lalu diganti menjadi Moehammad Said. Kata Tuan Guru tersebut bahwa nama itu baik dan artinya adalah pemimpin yang bijaksana.
Pada tahun 1944 beliau masuk Sekolah Rakyat di zaman Jepang, sekolahnya yang ada di muara kampung beliau. Syarat untuk masuk Sekolah Rakyat, kepala harus gundul karena ini merupakan perintah dari Jepang. Kepala terpaksa ditutupi dengan topi. Tiap pagi berbaris menghadap matahari terbit dan menyanyikan lau kebangsaan Jepang. Jika melewati penjagaan Jepang, maka harus berhenti, membuka topi dan memberikan hormat. Beliau juga di sekolah diajarkan bahasa Jepang sedikit-sedikit.
Pada tahun 1950 beliau kemudian melanjutkan ke SMP (Sekolah Menengah Pertama) Bagian B di kota Kandangan dan lulus pada tahun 1953. Kemudian beliau melanjutkan ke SMA (Sekolah Menengah Atas) bagian B di Banjarmasin dan lulus pada tahun 1956. Diantara 9 teman beliau yang lulus, beliau mendapatkan penghargaan lulus nomor 3 dan beliau sangat bangga pada waktu itu.
Pada tahun 1956 hingga tahun 1963 beliau melanjurkan kuliah di fakultas Teknik Sipil Universitas Gajah Mada di Yogyakarta. Selama tujuh tahun beliau bergelut dan berjuang dengan penuh keprihatinan karena pada waktu beliau kuliah, beliau dalam serba kekurangan. Akhirnya beliau bisa lulus pada bulan Desember 1963 dengan gelar insinyur  dan atas anjuran dari Bupati Hulu Sungai Selatan Bapak H. Kasyful Anwar, beliau kembali ke kota kelahiran beliau di Kandangan dan bekerja di Pemerintahan Daerah Kabupaten Hulu Sungai Selatan.
Pada tanggal 31 Mei 2012, beliau menjadi dewan pembina Yayasan Pondok Pesantren Rasyidiyah Khalidiyah Amuntai Kalimantan Selatan periode 2012-2017. Tujuan beliau untuk Pondok Pesantren ini adalah untuk menjadikan pondok pesantren yang mandiri dan modern di Kalimantan Selatan.

C.    Faktor-faktor Pendukung Pertumbuhan Pondok Pesantren Rasyidiyah Khalidiyah
Keunggulan dari Pondok Pesantren Rasyidiyah Khalidiyah Amuntai Kalimantan Selatan dari segi pendidikan dan pengajaran, yaitu tersedianya sistem pengajaran yang termodifikasi antara sistem konvensional dan modern. Hal mana didukung oleh tenaga-tenaga edukatif yang dimiliki memiliki kemampuan yang cukup di bidangnya serta memiliki loyalitas dan rasa memiliki terhadp perguruan.
Keunggulan lain yang dapat dikedepankan adalah sistem kurikulum pondok yang fleksibel dengan keadaan zaman dan terus menerus menjadi materi pengajaran yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat Amuntai pada khususnya.
Keunggulan utama yang menjadi ciri khas dari Pondok Pesantren Rasyidiyah Khalidiyah Amuntai Kalimantan Selatan adalah melakukan pendidikan yang menitikberatkan pada penanaman akhlakul karimah, kemampuan berbahasa Arab dan Bahasa Asing serta pemahaman dan pendalaman pendidikan kitab kuning.
Pembaharuan dan Peningkatan Kualitas Keberagaman Pondok Pesantren Rasyidiyah Khalidiyah dalam Syiar Islam di Amuntai pada saat ini lebih mengedepankan pola pendidikan formal dan non formal. Sampai pada saat ini Pondok Pesantren Rasyidiyah Khalidiyah Amuntai Kalimantan selatan menyelenggarakan pendidikan adalah TPA dan TPQ, RA dam MI, Takhassus Diny, Ma’had al Aly,      MTs NIPA, MTs NIPI, MA/MAK NIPI, MA/MAK NIPA, dan STAI Rakha Amuntai.
Sesuai SK (Surat Keterangan) Dewan Pembina Yayasan Pondok Pesantren Rasyidiyah Khalidiyah Amuntai Kalimantan Selatan No. 01/kptsn. Rakha/V/2012. Tgl. 31 Mei 2012, susunan Dewan Pengurus yayasan Pondok Pesantren Rasyidiyah Khalidiyah Amuntai Kalimantan Selatan periode 2012-2017 adalah:
1.      Dewan Pembina
a.       Ketua Umum: Ir. H. M. Said
b.      Ketua I: H. A. Sulaiman HB.
c.       Ketua II: H. A. Makkie, BA
d.      Sekretaris Umum: Prof. Dr. H. Artani Hasbi
e.       Sekretaris I: Dr. H. Bahran Noor Haira, M.Ag
f.       Anggota:
1)      Drs. H. M. Syachriel Darham
2)      H. M. Aunul Hadi Idham Chalid
3)      Dr. KH. Saberan Afandi, MA
4)      KH. Hamdan Chalid, Lc
5)      Ir. H. Ahmad Gazali
6)      KH. Thaberani Aly, Lc
7)      Drs. KH. Thaberani Basri
8)      KH. Amberanie Hamidy, Lc
9)      Prof. Dr. H. A. Fahmie Arif, MA
10)  Dr. Mujiburrahman
11)  Dr. H. Ahmad Suryadi Syafrian
12)  Drs. H. Abd. Wahid HK, MM, M.Si
13)  H. M. Irwan Anshari, SH. MH
14)  Drs. H. M. Ruzaidin Noor, M.AP
15)  H. Husni Thamrin, SH
2.      Dewan Pengurus
a.       Ketua Umum: KH. Husien Nafarin, Lc. MA.
b.      Ketua I: KH. Jailani Abin Dulah, Lc
c.       Ketua II: Drs. H. Barkatullah Amin, M.Pd.I
d.      Sekretaris Umum: H. Amir Husaini Zamzam
e.       Sekretaris I: H. Rif’an Syafruddin, Lc., M.Ag
f.       Sekretaris II: Drs. H. Khairan Usman
g.      Bendahara Umum: H. Iberamsyah Ahmad
h.      Bendahara I: Drs. H. Muhdar HB
i.        Bendahara II: Drs. H. Abidin B
3.      Dewan Pengawas
a.       Ketua Umum: Drs. H. Hormansyah Haika
b.      Ketua I: H. M. Ilyas, BA
c.       Ketua II: Drs. H. Ansyaruddin, M. Si
d.      Sekretaris: H. Zainal Abidin Atha S.Ag
e.       Wakil Sekretaris: Drs. Ahmad Sauqi Masrawan
f.       Angota:
1)      KH. Aini Anang, BA
2)      Drs. H. Khalidi Arsyad
3)      H. Supiansyah AR.
4)      Drs. H. A. Hasib Salim, M.AP
5)      Drs. H. Asy’ari A. Hasan
6)      Hj. Siti Aminah
7)      H. Syarif Hidayah Nafiah
8)      Ir. H. Anwar Fauzi
4.      Badan Penyantun
a.       Ketua: H. A. Sulaiman HB
b.      Sekretaris: H. A. Makkie, BA
c.       Bendahara: H. Kamarul Hidayat
d.      Anggota:
1)      Abdussalam Bani Surya
2)      Ir. H. M. Said
3)      Drs. H. Rudi Resnawan
4)      Drs. H. Farid Wadjdi, M.Pd
5)      Drs. H. M. Ruzaidin Noor, M.AP
6)      H. M. Irwan Anshari, SE., MM
7)      H. Supiansyah AR
8)      H. Abdul Halim, Lc
9)      H. Iberamsyah Ahmad
10)  H. Syarkani
11)  H. Nurhin
12)  H. Syahrujani
13)  Drs. H. Ansharuddin, M.Si
14)  Drs. H. M. Riduan
15)  Ir. H. Akhmad Farhani, MM
16)  H. Mochyar
17)  H. Ahmad Hipni Alwi
18)  H. Muharram, SE
19)  H. Bahrani – H. Ghazali
20)  H. Bahrani – H. Bahrani


[1] H. Syafriansyah, “Sejarah Singkat Pesantren Rasyidiyah Amuntai Kalsel”, dalam Mimbar Rasyidiyah Khalidiyah Media Informasi dan Komunikasi, edisi 01 tahun 2005, hlm. 12.
[2] 50 Tahun Perguruan Islam Rasyidiyah Khalidiyah (RAKHA) Amuntai Kalimantan Selatan 1922-1972, hlm. 23.
[3] Ibid., hlm. 23-24.
[4] H. Syafriansyah, “Sejarah Singkat....”, hlm. 12.
[5] 50 Tahun ..., hlm. 24 dan Ibid.
[6] H. Syafriansyah, “Sejarah Singkat ..., hlm. 12.
[7] 50 Tahun ..., hlm. 25.
[8][8] Ibid., hlm 31.
[9] Ibid.
[10] Ibid., hlm. 32 H. Mohammad Ali dan H. Firdaus, Profil Madrasah Aliyah, The Reformulatioin of Science and Techonology Equity Program Phase Two (Indonesian, English dan Arabic Version), (Departemen Agama RI, 2007), hlm. 149.
[11] 50 Tahun ..., hlm. 32.
[12] H. Syafriansyah, “Sejarah Singkat ...”, hlm. 12, 50 Tahun ..., hlm. 32 dan H. Mohammad Ali dan H. Firdaus, Profil Madrasah Aliyah ..., hlm. 149.
[13] H. Kamarul Hidayat, Apa dan Siapa Dari Utara Profil dan Kinerja Anak Banua, (Jakarta: CV. Surya Garini, ... ), hlm. 50.
[14] Ibid.
[15] H. Syafriansyah, “Sejarah Singkat ...”, hlm. 12, 50 Tahun ..., hlm. 32 dan H. Mohammad Ali dan H. Firdaus, Profil Madrasah Aliyah ..., hlm. 149.
[16] 50 Tahun ..., hlm. 33.
[17] H. Syafriansyah, “Sejarah Singkat ...”, hlm. 12.
[18] 50 Tahun ..., hlm. 33.
[19] Ibid.
[20] Selayang Pandang Pesantren Rasyidiyah Khalidiyah (RAKHA) Amuntai Kalimantan Selatan, hlm. 1-2.
[21] H. Zainal Abidin Atha, Kiprah Bapak KH. Dr. Idham Chalid Dalam Perkembangan Pendidikan Islam dan Pergerakan di Kalimantan Selatan: Pada Seminar “Menelusuri Jejak Kepahlawan dan Perjuangan KH. Dr. Idham Chalid” Amuntai, Tanggal, 25 April 2011, hlm. 1.
[22] Ibid., hlm. 2.
[23] Ibid.
[24] Ibid.
[25] Ibid., hlm. 3.
[26] Ibid.
[27] Ibid.
[28] Ibid.
[29] Ibid.
[30] Selayang Pandang ..., hlm. 2.
[31] H. Zainal Abidin Atha, Kiprah Bapak KH. Dr. Idham Chalid ..., hlm. 3.
[32] Selayang Pandang ..., hlm. 2.
[33] Ibid.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar